Ada 62 Perlintasan Tak Resmi di Jalur Sukabumi-Cianjur-Ciranjang

Ada 62 Perlintasan Tak Resmi di Jalur Sukabumi-Cianjur-Ciranjang Dua orang anak-anak di perlintasan kereta api di Desa Salajambe, Kecamatan Sukaluyu, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, terlihat menjaga arus lalu lintas agar tidak melintas saat kereta lewat karena tidak ada palang pintu di perlintasan tersebut. (Foto&keterangan: Antara).

CIANJUR - PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat, sebanyak 62 perlintasan tidak resmi di sepanjang Jalur Sukabumi-Cianjur-Ciranjang. Sebab tidak memiliki palang pintu yang menjadi tanggung jawab pemerintah daerah.

"Meskipun berstatus jalan kabupaten perlintasan kereta api seperti di Desa Sukaluyu, Kecamatan Sukaluyu, belum terdaftar atau tidak resmi, sehingga disebut perlintasan liar," kata Manajer Humas Daop II Bandung, Noxy Citrea saat dihubungi dari Cianjur, Kamis (7/11).

Ia menjelaskan, untuk pemasangan palang pintu hanya dilakukan di perlintasan resmi yang sudah berizin dan kepemilikannya menjadi prasarana perkeretaapian.

Berdasarkan pasal 94 UU 23/2007 tentang Perkeretaapian, kata Noxy, perlintasan sebidang yang tidak mempunyai izin harus ditutup pemerintah atau pemerintah daerah.

"Kami lebih pada mengantarkan penumpang kereta api dengan selamat sampai stasiun tujuan. Namun terkait minimnya palang pintu di Cianjur dan Sukabumi, kami coba berkomunikasi dengan pemerintah daerah setempat," kata Noxy.

Ia menambahkan, pihaknya akan membahas terkait perlintasan tidak resmi itu, agar segera diusulkan dan dijadikan perlintasan resmi. Juga dipasang palang pintu untuk menghindari hal tidak diinginkan yang menimpa pengendara saat melintas.

Menurut Noxy Citrea, minimnya pintu perlintasan kereta api di Cianjur, menyebabkan beberapa kali kecelakaan. Sehingga membuat unsur Muspika Kecamatan Sukaluyu, Cianjur, melakukan koordinasi dengan PT KAI.

"Kami akan agendakan untuk bertemu dan berkoordinasi dengan stasiun KAI terdekat. Sebelum kami akan membahas hal tersebut dengan desa yang dilintasi kereta api dan tidak memiliki palang pintu," kata Camat Sukaluyu, Agus Supiandi.

Seharusnya, kata Agus, perlintasan di Desa Selajambe terdapat palang pintu, sebab status jalannya milik Kabupaten Cianjur. Sehingga tidak masuk dalam perlintasan ilegal atau tidak resmi.

"Kami juga ingin memastikan kenapa di jalan tersebut tidak ada palang pintu dan penjaga. Ketika kereta hendak lewat banyak anak-anak yang secara spontan menjadi penjaga, agar mencegah kendaraan tidak melintas saat kereta lewat," katanya.

Kapolsek Sukaluyu, AKP Bambang Kristiono, mengatakan pihaknya juga akan meminta PT KAI untuk mengaktifkan penjaga di perlintasan kereta api di Desa Selajambe, yang merupakan jalur hidup yang ramai dilalui kendaraan setiap harinya.

"Ini tugas PT KAI, untuk menyediakan penjaga perlintasan karena kami tidak memiliki kewenangan untuk menyiagakan anggota di jalur tersebut. Jalur ini selalu ramai setiap harinya," kata Bambang.

Selama ini, tambahnya, pihaknya melalui Babinkamtibmas mengimbau warga khususnya pengendara untuk waspada dan ekstra hati-hati. Terutama saat melintas di perlintasan kereta api tersebut karena tidak ada penjaga dan palang pintu. (Ant).