Gerakan Cinta Tenun Ikat, 'Eco Fashion' dari Daerah Tertinggal

Gerakan Cinta Tenun Ikat, 'Eco Fashion' dari Daerah Tertinggal Dwi Rudi Hartoyo sebagai Direktur Pengembangan Sumber Daya dan Lingkungan Hidup, Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PDT) Kemendes PDTT. (Foto: Istimewa).

JAKARTA - Tren fesyen lokal dan ramah lingkungan atau 'eco fashion' terus meningkat. Semakin marak pula kain nusantara dan pewarna pakaian alamiah yang terbuat dari bahan alami. Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) tak ketinggalan dalam menyikapinya. 

Sri Mega Darmi, istri Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo, akan meluncurkan Gerakan Cinta Tenun Ikat dan Festival Budaya, untuk mendukung kearifan lokal. 

Kegiatan ini merupakan rangkaian pelatihan pewarna alami, yang dikemas dalam live in designer dan sudah dilakukan di Desa Boti, Kecamatan Kei, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). 

Pada pelatihan tersebut, sekitar 60 orang dilatih mengembangkan pewarna alami. Beberapa peserta adalah penenun dan pemotif di seluruh Nusa Tenggara Timur (NTT).

Direktur Pengembangan Sumber Daya dan Lingkungan Hidup (PSDLH), Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PDT) Kemendes PDTT, Dwi Rudi Hartoyo mengatakan, pemanfaatan sumber daya alam berwawasan lingkungan amatlah penting.

Tujuannya untuk memastikan keberlanjutan ketersediaan sumber daya, dengan mempertimbangkan kapasitas daya tampung dan daya dukung lingkungan setempat.

Kegiatan ini sejalan dengan yang dicanangkan oleh Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Tertentu (PDTU), yang telah melaksanakan roadshow festival pranata adat dan budaya di Kabupaten Buru, Sumbawa, Parigi Moutong, Halmahera Barat, Ende, Situbondo, Seram Bagian Barat, Lombok Barat dan di daerah lainnya. Dalam rangka promosi perdamaian dalam keberagaman adat istiadat, budaya dan suku. 

“Ditjen PDT dan Ditjen PDTU berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi NTT maupun Kabupaten TTS dalam rangka menyukseskan penyelenggaraan peluncuran Gerakan Cinta Tenun Ikat, yang merupakan salah satu kearifan lokal dengan potensi luar biasa, yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat jika menindaklanjuti secara bersama,” papar Rudi kepada wartawan di Jakarta.

Menonjolkan Keunggulan Kain Tenun & Kerajinan Lokal Sekaligus Menjaga Lingkungan

Menggeliatkan kembali pasar maupun produksi tenun tradisional NTT, lanjut Rudi, merupakan salah satu maksud dari kegiatan ini. Tujuan utamanya adalah mengangkat perekonomian masyarakat, dengan memberdayakan sumber daya tenun maupun kerajinan. 

Produk-produk tersebut tetap dipenuhi nilai budaya lokal, tanpa merusak kualitas lingkungan, serta dapat menjaga kelestarian lingkungan eksisting daerah. 

“Harapan kami lainnya, yaitu tercapai peningkatan kapasitas penenun, pemotif, maupun pebisnis produk tenun, sehingga menjangkau pasar yang lebih luas dengan pemanfaatan teknologi digital di era industri 4.0,” imbuh Rudi.

Dalam kegiatan ini, Ditjen PDT menggandeng Bank NTT, Dekranasda Provinsi NTT, desainer Merdi Sihombing, dan Tokopedia. 

Bank NTT mengambil peran sebagai salah satu venture capital yang dapat mendukung akses permodalan. Dekranasda bisa melestarikan dan mengembangkan warisan budaya nusantara, melalui pembinaan serta pengembangan seni kerajinan. Muaranya adalah untuk mengangkat harkat martabat serta taraf hidup kesejahteraan para perajin Indonesia. 

Keterlibatan disainer Merdi Sihombing diharapkan dapat mentransfer ilmunya kepada masyarakat, khususnya para penenun maupun pemotif tenun. Sedangkan penjualan secara digital produk dari daerah tertinggal, diharapkan akan ditunjang oleh Tokopedia.

Kegiatan peningkatan nilai tambah kerajinan dengan pewarna alam, merupakan serangkaian kegiatan di lima lokasi berbeda di kabupaten daerah tertinggal. Kegiatan di Desa Boti, Kabupaten Timor Tengah Selatan merupakan kegiatan yang keempat.

Direktorat Pengembangan Sumber Daya dan Lingkungan Hidup telah menyelenggarakan di Desa Setanggor, Kabupaten Lombok Tengah, dan Desa Limboro, Kabupaten Donggal, Sulawesi Tengah. Fokus kegiatan ini yaitu peningkatan nilai tambah tenun dengan pewarnaan alam.

“Sementara yang baru kami selenggarakan pada September ini di Desa Lahusa Fau, Kabupaten Nias Selatan, berfokus pada kerajinan kalabubu atau kerajinan tempurung kelapa, sebagai aksesori tambahan pendukung mode ramah lingkungan (eco fashion). Lokasi terakhir penyelenggaraan kegiatan peningkatan nilai tambah pewarna alam direncanakan di Kabupaten Wamena, Provinsi Papua sesuai rancangan kegiatan Direktorat PSDLH untuk 2019,” urai Rudi menutup penjelasan.