Diet Rendah Karbo dan Gula, Jurus Sehatkan Otak

Diet Rendah Karbo dan Gula, Jurus Sehatkan Otak Image: Pixabay.com

JAKARTA - Ada nasihat yang mengatakan bahwa segala sesuatu yang berlebihan pasti berdampak tak baik. Ternyata hal ini berlaku juga dalam hal pola makan atau diet keseharian kita.  

Mayoritas orang Indonesia pasti menyukai makanan berbasis karbohidrat dan mengandung gula. Memang, kedua bahan tersebut kerap terasa enak dan memiliki beberapa manfaat, tetapi rupanya gula dan karbohidrat olahan memiliki dampak buruk bagi otak. Bahkan menyebabkan masalah kesehatan mental, jika dikonsumsi secara berlebihan.

Dr. Georgia Ede, M.D. dari Diet Doctor seperti dilansir Medical Daily, mengatakan, karbohidrat olahan memiliki efek negatif pada senyawa yang memasuki otak. Zat ini dapat mengacaukan hormon-hormon tertentu dan memengaruhi suasana hati secara negatif.

Ketika hormon insulin terpengaruh, hormon lain dalam tubuh juga bisa terpengaruh, termasuk hormon pengatur tekanan darah aldosteron, hormon seks estrogen, hormon stres adrenalin dan kortisol.

Tingkat fluktuasi hormon-hormon tadi bisa menyebabkan banyak masalah dan kebanyakan memengaruhi kesehatan mental, seperti perubahan suasana hati, serangan kecemasan, insomnia, lekas marah dan kesulitan berkonsentrasi.

Ilustasi makanan berbasis sayuran. (Foto: Pixabay).

Ketika Anda mengonsumsi terlalu banyak gula dan karbohidrat, kesehatan otak Anda terancam. Konsumsi berlebihan karbohidrat olahan sebenarnya meningkatkan oksidasi dan peradangan - dua penyebab dan gejala dari banyak penyakit, termasuk gangguan psikotik semisal skizofrenia dan gangguan bipolar.

Untuk itu, diet rendah karbohidrat dan ketogenik bisa menjadi pemacu kesehatan otak. Rencana makan ini dikatakan memberi otak energi melalui ketogenesis dan glukoneogenesis.

Asupan rendah karbohidrat meningkatkan produksi keton tubuh yang dapat menyediakan hingga 70 persen dari kebutuhan energi otak.

Di sisi lain, glukoneogenesis memberi otak pasokan glukosa yang dibutuhkan bahkan jika asupan karbohidrat cukup rendah.

Karena itu, ketika karbohidrat rendah, otak mendapatkan bahan bakar dari keton yang diproduksi melalui ketogenesis dan glukosa yang diproduksi di hati melalui glukoneogenesis. 

Nah, lebih baik dominasi diet Anda dengan makanan berbasis 'real food' seperti sayur-mayur, buah-buahan dan protein. Sedangkan karbohidrat dan gula dikonsumsi secukupnya atau konsultasikan dengan dokter gizi Anda. (Ant).