Indonesia Alami Kemarau Terpanas Dalam 140 Tahun

Indonesia Alami Kemarau Terpanas  Dalam 140 Tahun Petugas gabungan dari TNI dan Manggala Agni Daops Banyuasin berusaha menarik selang air saat memadamkan kebakaran lahan di Desa Pemulutan, Ogan Ilir, Sumatera Selatan, Jumat (23/8/2019). (Foto&keterangan: Antara).

BANDUNG - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Doni Monardo, mengatakan bahwa Indonesia mengalami musim kemarau dengan suhu udara terpanas dalam 140 tahun pada 2019. Kondisi itu membuat kebakaran hutan dan lahan marak.

"Di Indonesia kebakaran menghanguskan total sekitar 857 ribu hektare, ini sampai dengan tanggal 30 September 2019, dan dari total itu 230 ribu hektarenya lahan gambut, di mana (kebakaran) lahan gambut sulit padam," kata Doni dalam acara diskusi di Rektorat Institut Teknologi Bandung (ITB), Jalan Tamansari, Kota Bandung, Jumat (1/11).

Musim kemarau panjang yang melanda Indonesia tahun 2019, menyebabkan kekeringan ekstrem di sejumlah daerah. Akibatnya, risiko kebakaran hutan dan lahan meningkat, termasuk kebakaran lahan gambut.

Ia mengatakan, bahwa membiarkan lahan gambut mengalami kekeringan adalah sebuah kesalahan. Sebab lahan gambut yang kering menjadi mudah terbakar dan kalau sudah terbakar, apinya sudah dipadamkan. 

"Membiarkan lahan gambut itu menjadi kering adalah 'pemerkosaan kepada hutan'," kata Doni

Ia mengemukakan bahwa pemadaman kebakaran hutan dan lahan gambut tidak cukup menggunakan hujan buatan, pengeboman air, maupun pengerahan pasukan pemadam darat. Sebab, air yang disiramkan ke lahan gambut secara manual, tidak akan meresap sampai ke lapisan dalam gambut.

"Kalau sama helikopter juga hanya sebagian wilayah saja, hanya bisa ditutup pada saat hujan turun," kata dia.

Doni mengimbau warga siaga menghadapi bencana apa pun, termasuk kebakaran hutan dan lahan. Serta mendukung upaya pencegahan bencana.

"Kita jangan jadi supermarket bencana," imbau Doni. (Ant).