Tito Karnavian: Normalisasi Sungai Tukka Bisa Jadi Model Pemulihan Pascabencana

Mendagri Tito Karnavian menilai normalisasi Sungai Tukka efektif kurangi risiko banjir dan berpotensi menjadi model pemulihan pascabencana nasional.
Penulis: Tim copywriter - Sabtu, 24 Januari 2026
Mendagri Tito Karnavian saat rapat pengarahan kepada Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Aceh Tamiang, di Kantor Bupati Aceh Tamiang, Senin (22/12/2025). Foto istimewa.
Mendagri Tito Karnavian saat rapat pengarahan kepada Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Aceh Tamiang, di Kantor Bupati Aceh Tamiang, Senin (22/12/2025). Foto istimewa.

Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (PRR) Sumatera, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, meninjau langsung proses normalisasi Sungai Tukka di Kelurahan Huta Nabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, sebagai bagian dari percepatan pemulihan wilayah terdampak banjir.

Banjir sebelumnya membawa material lumpur, pasir, dan batu yang mengendap di permukiman warga serta memenuhi alur sungai. Endapan sedimen tersebut menyebabkan daya tampung sungai menurun drastis dan menghambat kelancaran aliran air.

“Sungai yang sebelumnya penuh sedimen sehingga air tidak bisa mengalir dengan baik, kini dibersihkan menggunakan alat berat. Jika nanti terjadi hujan deras atau banjir kembali, setidaknya alurnya sudah lebih dalam dan tanggul dapat menahan luapan air,” ujar Tito kepada wartawan, Sabtu (24/1/2026).

Selain pembangunan jembatan darurat, pemerintah daerah bersama pemerintah provinsi melakukan normalisasi sungai dengan mengangkat sedimen dan memanfaatkannya sebagai material tanggul sementara di sisi kiri dan kanan sungai.

Tito menjelaskan, material sedimen yang didominasi pasir dan batu tersebut ke depan dapat dipermanenkan melalui penguatan konstruksi tanggul.

“Dengan begitu aliran sungai menjadi lebih dalam, dan saat debit air meningkat, tanggulnya bisa menahan. Ini model yang sangat baik dan bisa diterapkan di daerah lain yang sungainya tertutup sedimen, seperti di Aceh dan Sumatera Barat,” tegasnya.

Ia menekankan, pendekatan tersebut tidak hanya relevan untuk Tapanuli Tengah, tetapi juga berpotensi menjadi model nasional dalam penanganan sungai pascabencana.

“Daripada sedimen dibiarkan menutup sungai dan memperparah risiko banjir, lebih baik dikelola seperti ini. Ini solusi yang cepat, realistis, dan berdampak langsung bagi keselamatan warga,” pungkas Tito.

Sementara itu, Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu menyampaikan bahwa normalisasi sungai dilakukan dari hulu hingga ke muara dengan total panjang sekitar 10,5 kilometer.

“Pengangkatan lumpur dilakukan dari hulu sampai hilir. Kami membangun tanggul di kiri dan kanan sungai agar alurnya diperdalam dan kapasitas tampung air kembali normal untuk melindungi permukiman warga dari banjir berikutnya,” jelasnya.

Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution menambahkan, penanganan Sungai Tukka merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah pusat dan pemerintah provinsi, mengingat sebagian sungai berada di bawah kewenangan Kementerian Pekerjaan Umum dan sebagian lainnya menjadi kewenangan pemerintah provinsi.

Scroll